CHAPTER 1: Between You and Your Flaws
Halaman Tersembunyi
Terkurung dalam lamunan,
Membeku dalam ingatan.
Menghilang dalam angan,
Terbuai dalam bayangan.
Duka tertanam tanpa suara,
Rintihan hati kian menggema.
Berusaha kuat agar tak runtuh,
Mencari damai yang kau butuh.
Bagian ini tidak ingin dibaca,
Tidak perlu juga dicerca.
Rasakan secara perlahan,
Tanpa tuntutan, tanpa paksaan.
Di halaman ini jiwaku diuji,
Menyusuri jalanan berduri.
Merebak keluar dari ilusi,
Demi keutuhan yang sejati.
Sebuah Pengakuan
Ini adalah sebuah pengakuan,
Tentang letih tak berkesudahan.
Ungkapan ini akhirnya keluar,
Mencegah naluri menjadi liar.
Apa salah bila kehilangan arah?
Apa salah jika ingin menyerah?
Saat tujuan yang samar terlihat,
Dengan beban yang kian pekat.
Retak dulu kemudian bertahan,
Meski gentar aku memilih berjalan.
Tak selalu gagah, tak selalu tenang,
Langkah ini tetap kupandang.
Ini bukan sampah, tapi pengakuan,
Catatan jujur membentuk kesadaran.
Tidak bisa langsung disingkirkan,
Namun layak untuk dimaafkan.
Trying to Heal
Dalam keheningan malam,
Kutelusuri jejak yang kelam.
Kembali hadir tanpa permisi,
Bersemayam di sudut diri.
Gelap tanpa cahaya,
Hanya hampa tersisa.
Bagai sayap yang patah,
Sakit tapi tak berdarah.
Izinkan aku mengambil jeda,
Untuk hati yang ingin bersuara.
Tidak perlu sembuh sempurna,
Biarkan waktu yang berbicara.
Ini bukan sekedar janji,
Melainkan jujur pada nurani.
Sebab kelak aku akan pulih,
Meraih utuh yang kupilih.
Berdamai Tanpa Perlawanan
Kaki ini terlalu lelah berlari,
Mengejar arah yang tak pernah pasti.
Tangan ini gemetar menahan takut,
Mencari jawaban yang kian menuntut.
Hati penuh riuh oleh amarah,
Meratapi diri yang terasa rapuh.
Seringkali kucari pembenaran,
Atas tiap ragu dan pertimbangan.
Namun haruskah aku melawan,
Saat yang tersisa hanyalah kelelahan?
Tidak juga punya pengakuan,
Hanya sepi yang bernama penyesalan.
Begitulah caraku akhirnya belajar,
Bahwa ini bagian tentang menerima.
Bukan mencaci, melainkan mendengar,
Apa yang dulu kusebut problema.
Antara Bara dan Lara
Jauh menyelam di sanubari,
Ada bara yang tak pernah benar-benar padam.
Ia menyala dari mimpi,
Dari harap yang ku peluk terlalu dalam.
Setelahnya lahirlah lara,
Sunyi yang tumbuh perlahan.
Saat kenyataan tak senada,
Seindah yang kuimpikan.
Bara mengajarkanku bertahan,
Lara menghadirkan keheningan.
Berlari mengejar semua ambisi,
Lalu lupa pulang pada diri sendiri.
Kemudian aku tersadar,
Keduanya bukanlah sebuah pilihan,
Sebab itulah sebuah radar,
Dalam putaran roda kehidupan.
Komentar
Posting Komentar