CHAPTER 2 : Between You and Your Busy Mind
02.00 A.M.
Hanya aku dan jam dua dini hari,
Di mana isi kepala mulai menari.
Mengulas kembali kejadian sehari,
Begitu terampil aku menipu diri.
Rasanya terlalu familiar,
Hingga menjelma menjadi liar.
Terkunci diri di sudut kamar,
Memendam tangis tak terdengar.
Terlampau sunyi,
Sampai aku menepi.
Bertarung dengan sepi,
Melampaui semua bunyi.
Ingin aku berbagi rasa,
Karena ini terlalu menyiksa.
Berteriak pun tak bisa,
Hanya hampa yang tersisa.
Bising
Berisik, jangan kau usik,
Kepala ini bukan medan konflik.
Berbalik, menjauh dari pelik,
Kebinasaan kian mencekik.
Aku sedang bersandiwara,
Menunggu si hitam itu sirna.
Kembali menjadi berwarna,
Saat tawa kembali bernyawa.
Berisik, berhenti kau kulik,
Kegelisahan meraung kencang.
Berbalik, sebelum menjadi toksik,
Kesadaran diri menolak tumbang.
Tak ku izinkan kau datang lagi,
Walau sesak yang menyerang.
Riuh ini tak perlu kuturuti,
Hingga damai semakin terang.
Overthinking, Lagi?
Terjebak lagi ku disini,
Mengulang rutinitas sehari-hari.
Pikiran tak berhenti barang sekali,
Mempertanyakan apa yang terjadi.
Sensasi ini bukan sekedar mimpi,
Senantiasa lekat pada diri.
Berputar terus tak mau pergi,
Bergerak bagai halusinasi.
Pernah ku coba berhenti,
Menahan rasa dalam diri.
Menguatkan semua alibi,
Namun jiwa malah frustasi.
Ku paksa lagi untuk berdiri,
Meski masih menyimpan dengki.
Berusaha menanamkan empati,
Supaya tak berujung jadi elegi.
Haus Validasi
Beginilah cerita haus validasi,
Lambang retaknya harga diri.
Seringkali mengemis atensi,
Tombol suka menjadi saksi.
Lidah makin lihai membual,
Merangkai kisah untuk dijual.
Suara hati dibiarkan samar,
Hanya demi satu komentar.
Citra diri penuh polesan,
Bangga sesaat jadi sorotan.
Seolah mendapat pengakuan,
Terlalu takut ditinggalkan.
Tak tahu kapan gejolak redam,
Saat semakin jatuh tenggelam.
Menatap layar dengan sendu,
Meninggalkan bahagia yang semu.
Mencari Cahaya Dalam Redup
Kala itu aku masih percaya,
Bahwa riuh menjadi tanda hidup.
Namun aku salah mengira,
Ternyata perlahan aku mulai redup.
Hitam, pekat, dan dalam,
Menjerat di gelapnya malam.
Sabotase tumbuh dalam pikiran,
Bertarung di batas kesadaran.
Kapan ku peroleh kebahagiaan?
Ketika pikiran terus mencecar.
Haruskah ku ubah pendirian?
Agar bisa berhenti menyamar.
Seringkali terpaku ekspektasi,
Memanjakan sunyi dalam diri.
Hingga kenyataan pun terpatri,
Tak mencari pengakuan lagi.
Komentar
Posting Komentar