CHAPTER 3 : We Are Still Becoming
Menjadi Dewasa
Aku kembali membuka mata,
Saat waktu tak henti memburu.
Hal yang dulu sebatas kata,
Telah menjadi babak baru.
Siap bukan menjadi pilihan,
Tak tertulis di dalam daftar.
Memasuki usia puluhan,
Hidup datang dengan gentar.
Meski belum terlalu matang,
Tapi tertampar oleh kenyataan.
Pilihan hidup membentang,
Menunggu diambil keputusan.
Mungkin beginilah dewasa,
Ketika semua tak lagi sederhana.
Dan aku harus tetap terima,
Bahwa dunia telah berbeda.
Pundak yang Berat
Laksana langit yang mendung,
Beban menumpuk tak terbendung.
Melawan belati mengiris asa,
Hanya helaan nafas yang tersisa.
Bagaimana ku sambut pagi?
Saat cobaan silih berganti.
Tak memberi waktu sejenak,
Terus saja meninggalkan jejak.
Ingin aku kembali ke masa lalu,
Disaat langit masih terlihat biru.
Mendengar hangatnya tawa,
Bukan sebuah rasa kecewa.
Tapi jangan salahkan keadaan,
Sebab hidup butuh pembuktian.
Salah benarnya urusan nanti,
Aku terus belajar jadi mandiri.
Melampaui Masa
Kala itu kita masih satu tuju,
Tak peduli berjalannya waktu.
Duduk bersama di pelataran,
Saling melempar jutaan harapan.
Bercerita hari depan jadi apa,
Membuat rencana tak banyak kata.
Setia waktu itu menjadi janji,
Menjadi dekat seperti nadi.
Nyatanya perlahan berpisah,
Kenangan terukir sebagai kisah.
Lingkup mengecil berganti prioritas,
Obrolan hanya menjadi selintas.
Bukan tak mau lagi bersama,
Jalannya yang sudah berbeda.
Kita pun hanya bisa terbiasa,
Menerima diri menjadi dewasa.
Sadar dan Sabar
Sadar, kewajiban mulai melebar,
Tanggung jawab lebih dari selembar.
Lelah hati kehilangan gejolak,
Memanggul realitas dengan telak.
Andai bumi tak lagi mendengar,
Hasrat redup kehilangan fokus.
Belenggu diri kian menyebar,
Insan ini menjadi tak terurus.
Sabar, tak semua perlu diumbar,
Tumbuh bertahap untuk bersinar.
Badai hidup datang terhentak,
Cobaan pahit pun ku tenggak.
Jejak luka biarlah bertahan,
Ragu hadir untuk disanggah.
Kalbu tegar tinggalkan ancaman,
Pulih perlahan, temukan arah.
Going Growth
Fajar kembali menampakkan diri,
Bersama senyuman yang lugu.
Dambakan hari sewarna pelangi,
Meski akan sirna ditelan waktu.
Aku sudah berhenti melangkah,
Mencari panggung yang megah.
Walaupun masih sering bertanya,
Semangat ku cari jawabannya.
Mencoba tumbuh di dalam cemas,
Mewarnai hitam menjadi emas.
Gundah gulana menjadi fana,
Sinar meresap ke dalam sukma.
Menapaki jalan yang kian acak,
Laksana berjalan di sehelai kain.
Hapuskan bimbang terus berontak,
Demi meraih tenangnya batin.
Komentar
Posting Komentar